Analisis Jurnal Metode Riset (grafik)

Nama : Rahayu sri

NPM   : 15209853

Kelas : 3EA13

Tema : STRATEGI MENCAPAI  KEPUASAN  PELANGGAN PADA COFFE SHOP

Analisis Jurnal 1

I. Judul : STARBUCKS STRATEGY, PLEASURE IS EVERYWHERE

Nama pengarang : Meuthia Zalfyanka

Tahun : 2011

II. Latar belakang masalah 

Budaya minum kopi terutama di pagi hari sangatlah khas kita dengar setiap harinya. Tidak hanya di pagi hari di saat semua orang akan memulai harinya melainkan juga di saat istirahat siang ataupun bersantai sore banyak orang telah memilih kopi untuk menjadi teman menghabiskan waktu. Budaya yang awalnya berasal dari barat ini pun muncul sebagai salah satu kebutuhan yang tidak terlepaskan dalam kehidupan banyak orang terutama para pencinta kopi. Meningkatnya permintaan akan kopi, memancing munculnya berbagai brand dan kedai-kedai kopi di sekitar kita. Pengunjung kedai-kedai ini pun tidaklah sedikit, begitu pula dengan keuntungan yang didapat oleh produsen. Namun tidaklah semua pengunjung merupakan para penikmat kopi, melainkan hanya mencari suasana atau bahkan untuk menunjukan status sosial. Dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya minum kopi itu sendiri telah berkembang tidak hanya sebagai pemuas kebutuhan para pencinta kopi saja melainkan pula muncul sebagai trend atau gaya hidup tersendiri. Starbucks merupakan kedai kopi yang sangat terkenal di dunia. Jumlah kedai Starbucks telai mencapai lebih dari sepuluh ribu gerai kedai kopi yang tersebar diseluruh dunia. Brand yang berasal dari Amerika ini tidak hanya menawarkan kualitas tinggi di setiap produknya melainkan pula mengedepankan kesenangan para pelanggan melaui service dan atmosfer tempat yang nyaman. Tidak hanya itu, Starbucks juga sangat menjaga kepuasan para pelanggannya. Banyak orang di dunia tidak terkecuali Indonesia telah menjadi penggemar setia brand yang sudah ada sejak tahun 1990 an ini dan tidak segan-segan untuk mengeluarkan uang demi segelas kopi nikmat dari Starbucks setiap harinya.  Oleh karenanya tidak heran kalau Starbucks telah menjadi yang terdepan dalam bidangnya.Dalam industri ini, tentulah Starbucks mempunyai saingan dalam usahanya sebagai penyuguh minuman kopi, seperti yang sering kita dengar yaitu Coffe Bean, Dunkin Donnuts, Jco Donnuts, Begawan Solo Cofee dan masih banyak lagi. Menghadapi maraknya persaingan ini, Starbucks tetap berpegang teguh pada statemen yang dikutip dari situs resminya yaitu ”We’re committed to offering our customers the world’s best coffee and the finest coffee experience”, yang tidak lain maksudnya adalah Starbucks selalu menjanjikan kualitas terbaik untuk pelanggan dalam setiap produknya.

  • Fenomena :

Minat masyarakat terhadap tempat makan yang berada di sekitar kita

Deskripsi               : Pada tahun 2009 minat masyarakt tetuju kepada coffe bean yang memperoleh 92% ,  sedangkan dunkin donat memperoleh 71% dan jco donat 60% karna masyarakat mempercaya coffe tidak memakan waktu yang lama.  tetapi pada tahun 2010 coffe bean mengalami penurunan sebanyak 33% untuk dunkin donat mengalami kemajuan sebanyak 78% dan Jco mengalami kemajuan sangat pesat dengan memperoleh ratinghampir 100% tetapi pada tahun 2011 coffe bean sangat kalah meghadapi persaingan pada tahun sebelum’y bukan hal’y coffe bean tetapi Jco mengalami kemunduran hingga 10%

  • Riset terdahulu

Ø  Menurut pada tahun (2009) masayarakat memilih tempat coffe bean daripada dunkin ataupun Jco    yang mereka yakini coffe bean lebih efisien dan tidak mengeluarkan biaya yang lebih banyak.. tetapi pada tahun berikutnya persaingan dari ke-3 tempat tersebut sanggat pesat sehingga masyarat lebih memilih Jco dan dunkin yang mereka yakini dapat mengganjel perut mereka yang sangat sibuk mengajalankan aktifitas. Menurut survei kecil yang saya lakukan dengan menanyakan beberapa orang mengenai Starbucks dan pesaingnya, menunjukan bahwa hampir semua responden menjawab tetap memilih Starbucks dibandingkan para pesaingnya dalam memenuhi kebutuhan akan kopi ataupun sekedar tempat untuk bersantai. Hasil survei kecil ini pun menunjukan meskipun para pesaing Starbucks menawarkan produk yang hampir serupa jenisnya, suasana yang dibuat pula serupa (contohnya dengan memberikan sofa dan lainnya), dan bahkan menawarkan dengan harga yang lebih murah tetap saja para responden lebih memilih Starbucks dengan berbagai alasan. Salah satu alasannya antara lain adalah karena kebanyakan orang lebih pertama mengenal Starbucks sebagai pilihan tepat dalam urusan kopi (positioning; ingin minum kopi pastilah Starbucks yang dituju).

  • Motivasi penelitian

Berdasarkan fenomena dan riset sebelumnya dan teori tahun 2009 Motivasi Peneliti Mengetahui elemen penting dalam konsep 4P (product, price, place, promotion) yang dituturkan oleh Kothler tentang pemasaran (marketing) adalah Place. Placement atau penempatan yang dimaksud adalah lokasi yang dianggap strategis untuk memasarkan dan menjual produk. Elemen place ini tidak kalah penting dengan elemen-elemen lainnya, ini dikarenakan tempat kita memasarkan suatu produk sangat menentukan tingkat penjualan produk dan keberhasilan usaha kita. Lokasi penjualan yang tepat,nyaman dan mudah dijangkau itulah yang diinginkan oleh konsumen. Elemen place ini ditangkap serius pula oleh Starbucks dalam usaha mensukseskan pemasarannya.

III. Masalah 

Budaya minum kopi terutama di pagi hari sangatlah khas kita dengar setiap harinya. Tidak hanya di pagi hari di saat semua orang akan memulai harinya melainkan juga di saat istirahat siang ataupun bersantai sore banyak orang telah memilih kopi untuk menjadi teman menghabiskan waktu. Budaya yang awalnya berasal dari barat ini pun muncul sebagai salah satu kebutuhan yang tidak terlepaskan dalam kehidupan banyak orang terutama para pencinta kopi. Meningkatnya permintaan akan kopi, memancing munculnya berbagai brand dan kedai-kedai kopi di sekitar kita. Pengunjung kedai-kedai ini pun tidaklah sedikit, begitu pula dengan keuntungan yang didapat oleh produsen. Namun tidaklah semua pengunjung merupakan para penikmat kopi, melainkan hanya mencari suasana atau bahkan untuk menunjukan status sosial. Dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya minum kopi itu sendiri telah berkembang tidak hanya sebagai pemuas kebutuhan para pencinta kopi saja melainkan pula muncul sebagai trend atau gaya hidup tersendiri.

IV .Tujuan penelitian 

Menganalisis salah satu elemen penting dalam konsep 4P (product, price, place, promotion) yang dituturkan oleh Kothler tentang pemasaran (marketing) adalah Place. Placement atau penempatan yang dimaksud adalah  lokasi yang dianggap strategis untuk memasarkan dan menjual produk. Elemen place ini tidak kalah penting dengan elemen-elemen lainnya, memasarkan suatu produk sangat menentukan tingkat penjualan produk dan keberhasilan usaha kita. Lokasi penjualan yang tepat,nyaman dan mudah dijangkau itulah yang diinginkan oleh konsumen. Elemen place ini ditangkap serius pula oleh Starbucks dalam usaha mensukseskan .

 

 Analisis Jurnal 2

I . Judul : Analisis Kepuasan Konsumen The Coffee Bean & Tea Leaf  Sudirman Plaza

    Nama pengarang : Vience Maria Fransisca Agustanti .,

    Tahun : 2011

II. Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi ini gaya hidup masyarakat kota semakin kompleks, dapat kita lihat gaya hidup masyarakat kota yang semakin bervariasi. Sudah merupakan gaya hidup mereka pergi ke salon untuk perawatan dan menghabiskan waktu senggang dengan berjalan-jalan di suatu pusat perbelanjaan, shopping, dan menghabiskan waktu sambil bercengkrama dan menikmati makanan kecil dan minuman di sebuah coffee shop. Dalam memilih sebuah coffee shop, setiap orang mempunyai cara yang berbeda. Orang bisa memilih coffee shop karena tempatnya yang mewah, lokasinya yang strategis, atau karena pelayanannya yang memuaskan.  Sebagian konsumen beranggapan dengan memilih coffee shop yang mewah akan menaikkan image mereka. Sebagian konsumen lain memilih coffee shop yang lokasinya strategis agar mudah dijangkau. Konsumen lainnya akan lebih memilih coffee shop yang pelayanannya memuaskan yang membuat mereka merasa nyaman di dalamnya. Salah satunya adalah The Coffee Bean & Tea Leaf.

  • Fenomena 

Pehitungan kepuasaan pelanggan coffe shop

Deskripsi                ð pada tahun 2011 kinerja pegawai mencakupi standar 24% yang dimana pelanggan in mengalami kepuasan yang maksimal daripada tahun-tahun sebelumnya hal ini masyarakat bisa Ngopi di pusat-pusat perbelanjaan dan perkantoran di Jakarta kini sudah menjadi tren dan gaya hidup metropolitan. Lihatlah, misalnya, gerai-gerai minum kopi seperti Starbucks, Coffee Bean, Coffee Club, Java Bay, dan Segafredo Espresso yang kerap dibanjiri pengunjung. Orang rela antre untuk mendapatkan secangkir kopi yang harganya sekitar Rp 25.000, empat sampai lima kali lipat dibandingkan dengan harga secangkir kopi di warung-warung kopi pinggir jalan

  • Riset sebelumnya

Menurut kinerja pegawai dari tahun 2007 sampe tahun 2011 mengalami kemanjuan hingga 20% , Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer akan diperoleh dari responden ahli atau pakar. Data diambil melalui wawancara dan kuesioner. Data sekunder diperoleh dari sumber-sumber seperti Badan Pusat Statistik (BPS), buku-buku, literatur, dan tesis yang terkait dalam penelitian ini, Analisis Deskriptif digunakan untuk mengetahui karakteristik responden dan respon konsumen terhadap tingkat kepentingan dan tingkat pelaksanaan The Coffee Bean & Tea Leaf Sudirman Plaza. Berdasarkan Gap Analysis didapat bahwa tingkat harapan pelanggan yang paling tinggi adalah pada atribut cita rasa minuman. Tingkat harapan tertinggi pada atribut ini sangatlah wajar dan sesuai dengan tujuan utama The Coffee Bean & Tea Leaf, yaitu memberikan minuman, dalam hal ini kopi, dengan cita rasa terbaik kepada konsumennya. Sementara itu atribut yang paling tidak diharapkan oleh pelanggan adalah ketersediaan televisi. Atribut dengan tingkat kinerja terendah dapat dilihat pada atribut ketersediaan wifi. Untuk tingkat kinerja tertinggi ada pada atribut ketersediaan cara pembayaran, namun kinerja atribut ini masih belum memenuhi harapan konsumen.

  • Motivasi Peneliti

Untuk mengetahui karakteristik responden dan respon konsumen terhadap tingkat kepentingan dan tingkat pelaksanaan The Coffee Bean & Tea Leaf Sudirman Plaza. Berdasarkan Gap Analysis didapat bahwa tingkat harapan pelanggan yang paling tinggi adalah pada atribut cita rasa minuman. Tingkat harapan tertinggi pada atribut ini sangatlah wajar dan sesuai dengan tujuan utama The Coffee Bean & Tea Leaf, yaitu memberikan minuman, dalam hal ini kopi, dengan cita rasa terbaik kepada konsumennya. Sementara itu atribut yang paling tidak diharapkan oleh pelanggan adalah ketersediaan televisi. Atribut dengan tingkat kinerja terendah dapat dilihat pada atribut ketersediaan wifi. Untuk tingkat kinerja tertinggi ada pada atribut ketersediaan cara pembayaran, namun kinerja atribut ini masih belum memenuhi harapan konsumen.

III. Masalah 

The Coffe Bean & Tea Leaf sebagai salah satu perusahaan dalam industri coffe shop harus terus berusaha menganalisis pasar supaya dapat memenangkan persaingan yang semakin ketat. Perusahaan harus berfokus kepada konsumen dengan terus berusaha memperbaiki produk dan layanan serta memberikan informasi yang akurat kepada konsumen. Ada beebrapa kendala yang terdapat di outlet The coffe Bean & Tea Leaf yang berlokasi di Sudirman Plaza, untuk seterusnya disebut dengan Coffe Bean Sudirman Plaza. Menurut pengelola Coffe Bean Sudirman Plaza, keluhan pelanggan adalah tidak tersedianya area untuk merokok yang disediakan oleh pihak pengelola gedung Sudirman Plaza dan ketidakpuasan pelanggan bila pilihan bila pilihan minuman telah habis terjual. Selain itu, beberapa pelanggan juga mengeluhkan suhu ruangan yang dianggap terlalu dingin atau kepuasan pelanggan merupakan hal yang patut diperhatikan oleh Coffe Bean Sudirman Plaza untuk menarik minat konsumen yang baru dan meningkatkan kesetiaan pelanggan sehingga target penjualan dapat tercapai.

IV . Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan, menganalisis tingkat kepuasan pelanggan dan merumuskan usulan-usulan perbaikan bagi The Coffee Bean & Tea Leaf Sudirman Plaza agar dapat meningkatkan kepuasan konsumen.

 

Analisis Jurnal  3

I . Judul :  Pengaruh Financial benefits,social bnefits, dan structural ties terhadap Behavioral intentions di  Dome Café di Tunjungan Plaza Surabaya

    Nama Pengarang :  Ronald Rumui dan Cesilia Maria S.

    Tahun : 2005

II. Latar belakang masalah 

Dome Cafe yang ada di Indonesia merupakan sebuah perusahjaan franchise. Dome cafe berpusat di western Australia, berdiri tahun 1983. Melalui manajemen yang terkonsentrasi untuk melakukan ekspansi, perusahaan ini akhirnya berkembang sampai lintas Negara termasuk Indonesia. Di Indonesia , pertama kali perusahaan ini berdiri di Jakarta tahun 1999 (akhir) di Ratu Plaza. Setelah  Jakarta, maka Dome Café memperluas  jaringan pemasaran dengan membuka gerai baru di Surabaya. Dilihat daru produk yang di tawarkan , Dome café menawarkan  produk- produk  makanan dan minuman “ ala barat” seperti sandwich,spaghetti,steak,salad dll. Diantara produk yang ditawarkan yang di unggulkan oleh Dome Café adalahb Produk kopi dengan jenis Arabica caffe. Dengan sejumlah keunggulan yang dimiliki,seperti  halnya kualitas produk , lokasi strategis, dan image positif, akhirnya Dome Café mulai berkembang , meskipun terkadang mengalami fluktuasi dalam penjualan .

  • Fenomena

Harga makanan pada Café di Tunjungan Plaza Surabaya

Deskripsi            ð pada dome Café di Tunjungan Plaza Surabaya grafik tingkat harga makanan di sana pada makanan steak mengalami sangat dratis sehingga masyarakat lebbih memilih steak daripada spagetty, hal ini di sampaikan oleh pemilik Café di Tunjungan Plaza rata-rata masyarakat muda lebih memilih steak karna mereka yakini steak ini memiliki rasa yang tidak kalah dr spagetty ataupun sandwich Mungkin saja penurunan yang terjadi tersebut karena fluktuasinya iklim perekonomian dan suhu politik nasional di Negara ini, Tetapi juga mungkin penurunan penjualan  yang terjadi karena adanya perubahan pada pola perilaku pembelian konsumen untuk produk waralaba.

  • Penelitian Sebelumnya

Pada Café di Tunjungan Plaza ini memiliki harga yang cukup membuat masyarakat tidak bosan datang ketempat ini , apapun penyebab terjadinya penurunan penjualan di Dome Café ini, maka satu hal yang sangat mungkin terjadi yaitu penurunan behavioral intentions konsumen. Menurunnya behavioral intentions ini pada gilirannya juga akan mempengaruhi penurunan minat pembelian konsumen di Dome Café, Secara teoritis, berdasarkan pendapat yang dipaparkan tersebut, menunujukkan bahwa penurunan behavioral intentions yang sangat dimungkinkan memicu penurunan volume penjualan yang terjadi di Dome Café di sebabkan karena factor financial benefits, social benefits, dan structural ties. Untuk itu, maka identifikasi terhadap tiga factor yang disebutkan layak untuk diungkapkan.

Kajian mengenai factor Financial benefits, maka pembahasan diarahkan untuk mengindentifikasi harga yang ditawarkan oleh Dome Café dilihat dari berbagai perspektif. Harga yang ditawarkan Dome Café dilihat dari jumlah nominal, juga tidak lebih rendah dari harga yang ditawarkan oleh pesaing, seperti halnya Exelso,Starbucks,Coffe Bean, dan Nandos. Harga yang ditawarkan oleh Dome Café untuk sandwich = Rp 22.500 per porsi, spaghetti = Rp 27.000 per porsi, steak = diatas Rp 30.000, salad = Rp 7.500-10.000, dan Coffe = Rp 10.000- Rp 15000.

  • Motivasi Peneliti

Mengetahui pengaruh Financial benefits, social benefits, dan structural ties secara simultan terhadap behavioral intentions konsumen pada Dome Café di Tunjungan Plaza Surabaya.

Dan mengetahui variable yang berpengaruh dominan terhadap behavioral intentions konsumen pada Dome Café di Tunjungan Plaza Surabaya.

III. Masalah

identifikasi minat beli konsumen pada produk-produk yang ditawarkan Dome Café. Melalui identifikasi driver problem ( pemicu masalah) penurunan penjualan ini, sangat dimungkinkan penurunan penjualan seperti di tahun 2003 dibandingkan dengan tahun 2001 dan 2002 tersebut probabilitasnya dapat ditekan. Jika dikaji ulang, apapun penyebab terjadinya penurunan penjualan di Dome Café ini, maka satu hal yang sangat mungkin terjadi yaitu penurunan behavioral intentions konsumen. Menurunnya behavioral intentions ini pada gilirannya juga akan mempengaruhi penurunan minat pembelian konsumen di Dome Café, hal ini berdasarkan pendapat Prayekti (2001:211) yang mengatakan :  “Financial benefits, social benefits , dan structural ties merupakan faktor-faktor pendukung terjadinya interaksi berkelanjutan antara konsumen dan perusahaan . “

IV. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh Financial benefits, social benefits, dan structural ties secara simultan terhadap behavioral intentions konsumen pada Dome Café di Tunjungan Plaza Surabaya. Untuk mengetahui variable yang berpengaruh dominan diantara variable Financial benefits, social benefits, dan structural ties, terhadap behavioral intentions konsumen pada Dome Café di Tunjungan Plaza Surabaya