Mendesak, Jakarta Butuh Bank Sampah

 

Produksi sampah di Jakarta yang mencapai lebih dari 6.500 ton per hari menuntut penyediaan bank sampah di lingkungan tempat tinggal warga. “Bank sampah diperlukan, tidak saja karena dinilai efektif dalam mengurangi volume sampah, tetapi sekaligus mendukung program ‘Jakarta Clean and Green’,” kata Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) DKI Jakarta Tatiek Fauzi Bowo, Ahad (20/5).

Ia mengatakan, “Jakarta Clean and Green”merupakan program untuk memberikan edukasi kepada warga terkait pengelolaan sampah dengan konsep andalan 3R (reduce, reuse dan recycle). “Intinya, bagaimana seharusnya sampah diolah, baik menjadi kompos maupun barang-barang kerajinan yang memiliki nilai ekonomis tinggi,” ujarnya.

Tatiek Fauzi menunjuk pengolahan sampah yang dilakukan warga RW 01 Susukan-Ciracas, sebagai contoh yang patut ditiru. Sejak 2007, warga Susukan tidak lagi mengandalkan petugas kebersihan untuk mengangkut sampah. Sampah yang ada, oleh warga dikumpulkan melalui bank sampah untuk kemudian dipilah dan didaur ulang menjadi barang yang bermanfaat.

Setiap pekan, masing-masing RT menyetorkan sampah kering sekitar 30 kilogram. Antara lain terdiri dari jenis koran, kardus dan botol. Seluruh sampah kering ini dijual kepada pengepul dan uang hasil penjualannya masuk ke kas RT masing-masing.

“Kalau pola ini dapat dikembangkan di wilayah lain, niscaya sangat mendukung langkah Pemprov DKI dalam mengurangi volume sampah,” kata Tatiek. Tatiek Fauzi mengalkulasi, jika Pemprov DKI Jakarta berhasil dalam meningkatkan pengolahan sampah terpadu melalui tempat pengolahan sampah terpadu yang disediakan Pemprov maupun pengolahan sampah yang melibatkan masyarakat maka residu sampah yang dihasilkan bisa berkurang.

“Kalau sampah bisa langsung ditangani di dalam kota, tanpa harus dikirim ke TPA Bantargebang, akan berdampak pada pengurangan beban arus lalu lintas ke Bekasi, di samping menghemat biaya bahan bakar,” katanya.

Seperti diketahui, kegiatan pengolahan sampah untuk mengurangi nilai residu, utamanya dilakukan melalui pengembangan Intermediate Treatment Facility (ITF). Selain itu, juga dengan membangun Sentra 3R di lima wilayah kotamadya, dengan tujuan meningkatkan partisipasi warga dalam melakukan 3R untuk sampah domestik rumah tangga.

Pentingnya keterlibatan warga dalam pengelolaan sampah inilah yang belakangan terus digerakkan antara lain lewat kegiatan Jakarta Berbagi Bersih (JB Bersih).

“JB Bersih adalah bagian dari rangkaian program Jakarta Berbagi, yang bertujuan menghimpun seluruh potensi pemangku kepentingan DKI Jakarta untuk meningkatkan kualitas manusia dan kualitas hidup di ibu kota,” kata Tatiek.

Diawali dengan kegiatan warga melakukan pembersihan dan penataan lingkungan, JB Bersih selanjutnya diisi dengan sosialisasi pengelolaan sampah antara lain melalui produksi kompos.

 

Sumber    :   Republika